Sabtu, 01 Oktober 2011

Indahnya menjadi aktivis dakwah. Mereka tak hanya merindukan tapi juga dirindukan. Saat kebaikan dan niat terjaga, bumi hingga syurga pun merindukannya. Dari makhluk yang selalu tunduk pada Allah yakni malaikat hingga ikan dalam dasar lautan pun ikut mendo’akannya. Subuhanallah sungguh begitu indah.

Mereka juga dijaga oleh yang Maha Baik Penjagaan-Nya, Allah Jalla wa ‘ala. Mereka dimudahkan urusannya serta dijauhkan dari rasa takut akan kekurangan. Tidak salah jika ada seorang Ustadz mengatakan jika seorang aktivis dakwah itu susah untuk dibunuh oleh musuh Allah. Kenapa? Sebab ada hikmah di balik kesibukan mereka. Mereka susah ditemukan, pagi masih di pondokan, siang di kampus, ba’da dzhuhur isi tarbiyah, menjelang ashar shalat di masjid lain dan ba’da ashar jenguk saudara seiman yang terbaring sakit, malamnya ikut ta’lim dan seterusnya. Ini hanya sebagian kecil dari Rahmat yang Allah berikan padanya.

Namun kadang keindahan ini ternodai oleh ketidak istiqamahan. Selalu ada masalah tapi kita tak dituntut untuk terkekang dalam masalah. Bagaimana menjadikan diri kita ideal dan tidak lekang oleh masaalah? Sebagai aktivis dakwah kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

a. Sami’na wa ato’na


Ikhwan, tahukah anda jika sebutan Iblis adalah sebutan bagi seorang Jin yang membangkang pada Allah ketika Allah memerintahkan Malaikat dan Jin sujud kepada Nabi Adam ‘alaihi salam? Semula jin ini begitu taat kepada Allah subuhanahu wa ta’ala sebelum Allah menciptakan manusia. Bahkan Allah mengangkat derajatnya terus-menerus hingga ke langit ketujuh. Namun ketika Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia dan diperintahkan kepada jin ini untuk sujud sebagai bentuk penghormatan pada manusia timbullah perasaan membangkang dalam dirinya.

dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 34)

Kenapa ikhwan? Sebab jin ini tidak melihat “Siapa yang memerintah” tapi ia melihat “Apa bentuk perintah” tersebut. Dalam pikiran Jin ini ia merasa bahwasanya ia lebih mulia dari Adam alaihi salam. Kenapa ia harus sujud pada Adam alaihi salam padahal bahan ciptaan dirinya adalah api sedangkan Adam alaihi salam dari tanah. Sekali lagi ikhwan, jin ini sudah tidak lagi melihat “siapa yang memerintahnya”.

Kemudian Allah subuhanahu wa ta’ala menghukumnya dan memberinya nama Iblis lalu dikeluarkan dia dan pengikutnya dari syurga serta di jauhkan dari rahmat Allah subuhanahu wa ta’ala .

Ikhwan, begitu juga dengan dakwah ini. Ada banyak karakter, jenjang usia dan pengalaman yang beraneka ragam dalam tanzim dakwah kita. Jika kita selalu mengedepankan perasaan lebih dibanding yang lain dan melihat perintah dari bentuk perintahnya maka musibah bagi dakwah ini. Kita pasti akan sakit hati, akan ada guratan tidak setuju di kening kita. Akan muncul suara lirih mengerutu dari hati kita, karena kita merasa tidak pantas. Aku senior, aku lebih berpengalaman, aku lebih hebat, dan aku-aku yang lain. Jika ini Ikhwan yang kita pelihara maka apa bedanya kita dengan Iblis? walyaudzubillah.

Maka ya Ikhwaany, lihatlah dari siapa yang memerintahkan kita. Bukan ya Ikhwan... bukan ketua kita, bukan koordinator kita, buka steering commite atau pengawas kita, tapi perintah itu adalah perintah Allah subuhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka yang engkau sebutkan itu adalah penyambung yang Allah berikan amanah untuk menyampaikan kepada kita.

Sungguh indah bukan? Lihatlah para Sahabat, mereka tidak pernah membantah ketika tiba ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya. Disebutkan, ketika turun firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat ke 284, dimana Allah subuhanahu wa ta’ala berfirman:

“... Jika kamu nyatakan apa yang ada dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu...”

Para Sahabat datang menyampaikan kepada Rasulullah bahwa mereka tidak sanggup. Ini berat bagi meraka, sebab kadang ada saja keburukan yang terbesit dalam hati tapi tidak dilakukan namun Allah memerhitungkannya. Bagaimana jika mereka tidak sengaja terlintas dalam pikiran mereka sebuah keburukan namun hanya sepintas lintas saja, sedangkan Allah memperhitungkannya. Namun Rasulullah mengingatkan kepada para Sahabatnya agar tetap istiqamah sebab ini adalah perintah dan ketentuan dari Allah. Maka para sahabatpun menerima dan tidak lagi meprotes sebab mereka tahu ini adalah perintah Allah.

Allah melihat kesungguhan mereka, Allah abadikan perkataan mereka dalam ayat selanjutnya. Allah berfirman:

... Dan mereka berkata, “Kami dengar dan Kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kami kembali.” (Al- Baqarah: 285)

Dan Allah pun mengaruniai mereka kemudahan,

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (QS. Al- Baqarah: 286)

Maka ikhwanifillah, dalam bertandzim dengar dan ta’at (sami’na wa ata’na) adalah bagian dari kesuksesan dan dialah deleter noktah-noktah keangkuhan.

b. Tegar dan kokoh


Seorang mujahid dan mujahidah dakwah tidak boleh loyo dan mudah rapuh. Ikhwanifillah, saat langkahmu telah kau letakkan pada zona dakwah maka bersiaplah sebab ujian yang kau akan temukan bukan lagi angin dengan putaran dan tiupan ringan seperti kipas listrik melainkan yang kau akan dapatkan adalah ujian yang lebih dahsyat dari badai katrina. Jika niatmu dan jasadmu tidak tegar dan kokoh maka dirimu akan mudah diruntuhkan oleh ujian maka pastilah engkau akan terlempar jauh terbawa pusaran badai cobaan.

Jika ada ujian berusahalah untuk bersabar. Jangan larut dengan keangkuhan karena sabar tak bisa menyatu dengan kepongahan. Lihatlah mereka yang angkuh! Mereka selalu merasa ini adalah jerih payahku, ini adalah buah karyaku, ini kalau bukan saya tak akan berhasil dan ini-ini lainnya. Akhirnya ketika kerja itu tak mendapat apresiasi apa yang terjadi? Ya.. mereka rontok, semangatnya mulai luntur, gairahnya tinggal untuk mengedipkan mata, sungguh sudah tak ada lagi tenaga untuk bergerak. Ini disebabkan tidak tegarnya mereka dalam meletakkan fondasi niat dan tidak kokohnya mereka mengarahkan amal-amal mereka.

Maka, jadilah orang kokoh dan tegar yakni mereka yang tidak pernah melihat apa yang mereka infakkan, tapi mereka melihat apa lagi yang akan mereka infakkan. Sadarkah ikhwan? Mungkin kita bisa memberi tanpa mencintai, tetapi kita tidak bisa mencintai tanpa memberi. Lantas apa yang sudah kita berikan untuk Islam, padahal kamu mencintainya. Jangan terperdaya dengan pujian orang hingga kita merendahkan kualitas kerja dakwah yang mahal ini. Berusahalah untuk kau dipuji penduduk langit dan jangan mengumpulkan senyum-senyum pujian dari penduduk bumi sebab senyum itu tak semua kau tahu apa mengandung racun atau madu.

c. Mustamir (berkelanjutan)


Dakwah butuh kelanjutan, sepakat? Ikhwanifillah kami pernah membaca sebuah buku yang berisi tentang cerita-cerita humor. Wallahu a’alam tentang kebenaran cerita ini, tapi ada hikmah yang bisa kita ambil di dalamnya.

Diceritakan ikhwa, ada pertandingan renang antar klub yang beranggotakan perenang-perenang handal. Saat hari perlombaan dan pistol udara tanda renang dimulai telah ditembakkan, terjunlah lima orang perenang ke dalam kolam. Mereka berusaha sekuat tenaga saling mendahului satu dengan yang lain. Dalam lomba gaya bebas ini terlihat seorang perenang tampil dengan spirit luar biasa. Ia meninggalkan perenang-perenag lainnya jauh dibelakang, dan penonton serta pelatihnya pun sudah mengambil kesimpulan bahwa kemenangan telah di depan mata. Alla kulli hal ikhwa, tinggal satu ayunan tangan perenang ini akan menyentuh dinding finis namun terjadi kesalahan fatal. Sang perenang ini tiba-tiba berbalik dan berenang kebelakang dengan arah berlawanan dengan perenang lainnya. Ia berusaha menggapai dinding tempat ia melakukan start. Palatih dan penonton serta pendukung dibuatnya bungkam dan bingung. What happend? Kata mereka. Setelah ditanyakan pada atlit tersebut, tahulah mereka bahwa ini benar-benar aneh, kenapa? Simaklah apa kata perenang tadi. “Ketika aku hampir mendekati finis tiba-tiba rasa lelah menyerang tubuhku dan ini membuatku keram maka aku putuskan untuk tidak melanjutkan lomba dan memilih kembali kebelakang”. Anda tersenyum?

Ikhwan, apa orang ini tidak memiliki energi? Apa perenang ini tidak memiliki pelatih, penyemangat, dan washilah? Lihatlah ia memiliki semua apa yang kita sebutkan, tapi ia tidak memiliki strategi yang mustamir (berkelanjutan). Begitu pula dakwah, saat kau punya pendukung, kau punya washilah dan juga kau punya mentor atau murobby dan murobbiyah namun kau tidak punya keinginan untuk melanjutkan dakwah ini maka kau hanya akan menjadi orang aneh dan batu sandungan dakwah dalam mencapai kesuksesannya.

Jangan biarkan lelah, letih, lesu dan loyo itu menjadi penyakit langganan kita. Keram-keram buatan yang sering menjadi senjata andalan kita dalam berdakwah buanglah sejauh mungkin. Contohlah sebaik-baik manusia Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang di datangi tawaran bertubi-tubi namun ia tetap melanjutkan dakwahnya.

Rasulullah saat pertama kali berdakwah beliau menyeru kepada orang-orang Quraiys “Tauhidkan Allah” tapi orang-orang Quraiys berkata “Tinggalkanlah wahai Muhammad perkataan yang tidak enak kami dengar itu! Jika kamu ingin kerajaan akan kami berikan kekuasaan padamu, jika kamu ingin harta maka kami akan jadikan kamu orang terkaya di kota Makkah ini dan jika kamu ingin wanita maka kami akan pilihkan kamu wanita-wanita cantik tapi dengan syarat, tinggalkan dakwahmu untuk mentauhidkan Allah!”

Lihatlah tawaran itu, semua terbuka lebar juga di zaman sekarang. Namun, apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mundur. Tidak!!! Beliau tidak mundur! Bagaimana dengan kita? Baru sekali colek dengan masalah, baru belajar akrab dengan problema kita sudah memutuskan tali dakwah kita. Apalagi saat tawaran kerja menggiurkan datang merayu kita, banyak orang memutuskan untuk gulung tikar dari dakwah. Bahkan ada juga yang karena telah menikah dan membangun peradaban kecil dalam istana mungilnya iapun menjatuhkan talak tiga pada dakwah.

Sungguh ironis, padahal dakwah inilah yang akan menjadi pencair masalah kita saat pertanyaan kubur menggerogoti kita. Dakwah inilah yang akan menjadi buah atau gaji yang menguntungkan saat sirat (jembatan) Jahannam itu kita lewati. Dakwah pulalah yang akan menjadi mahar untuk kita melamar bidadari-bidadari syurga dan menjadi stempel sah kepemilikan istana mutiara kita di Syurga.

“Sungguh orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman. (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadapan. Demikianlah, kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah. Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tentram
.” (QS. Ad-Dukhan: 51-55)

d. Menanggalkan masalah-masalah kecil.


“Jika ada baju baru, baju lama jangan dibuang”. Pepatah ini tidak asing di telinga kita. Pepatah yang konon maknanya adalah jika ada teman baru teman lama jangan dibuang (dilupakan). Lalu apa hubungannya dengan masalah-masalah kecil?

Intinya ikhwa, beajar itu adalah proses toyyib? Sekarang lihatlah pepatah itu! Bagaimana jika saya mengatakan jangan gunakan pepatah itu dalam membuat alasan, sebab banyak orang yang tidak sependapat dengan saya. Mau bukti? Begitu banyak orang yang berdakwah hancur karena individu-individu yang suka menjadi biang kerok. Apa semboyannya, “jika ada alasan baru, alasan lama jangan dibuang”.

Akhirnya, hanya karena berpartisipasi dalam peringatan “HMS (Hari Mencuci Sedunia)” musyawarah bolos lagi. Atau atas nama patah hati musyawarah jadi sasaran pelampiasan dengan tidak menghadirinya dan seabrek perkara-perkara kecil lainnya.

Ikhwan, apakah ketika Yasir radhiallahu anhu berduka dengan terbunuhnya kedua orang tuanya ia lalu tidak mau bergabung dengan rasulullah kembali? Apakah ketika Ummu Salamah kehilangan anak dan suaminya ia kemudian memutuskan tidak bergabung lagi dengan para Shahabiyyah? Apakah ketika Ibnu Taymiyyah rahimahullah dipenjara ia kemudian berhenti berdakwah?

Mereka tetap ikhwafillah, tetap dalam barisan kaum muslimin, sebab mereka tidak mau menjadi GULMA dalam dakwah Islam. Lihatlah, apakah masalah kita sebesar mereka? Mungkin hati kitalah yang tak sebesar mereka. Maka jauhkanlah ikhwa kebiasaan-kebiasaan buruk kita dalam beralasan dengan masalah-masalah kecil.

Akhirnya, bekerjalah ikhwan. Biar Allah dan orang-orang mu’min yang menjadi saksi kerja-kerja kita. Perbaiki niat, arahkan ia semata untuk mendapat ridha Allah, sebab Dakwah inilah perdagangan yang menguntungkan.

Wallahu A’lam

Oleh: Abdullah al Buthony
Reaksi:

0 komentar :

Poskan Komentar

12346678900-. Diberdayakan oleh Blogger.
12345678899

JADWAL TA'LIM AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH WILAYAH KOTA MAKASSAR

1. SELASA (Pukul 16.00 WITA. Syarah Shohih Bukhari, bersama Ustadz H.M. Yusran Anshar, Lc. Bertempat di Masjid Ulil Al Baab Politeknik Negeri Ujungpandang) 2. Pembahasan Umdatul Ahkam, bersama Ustadz Sofyan Nur, Lc. Bertempat di Masjid Kampus Unhas Tamalanrea Makassar) 3. KHAMIS (Pukul 18.30 WITA. Syarah Allu'lu wal Marjan, bersama Ustadz H.M. Yusran Anshar, Lc. Bertempat di Masjid Nurul Hikmah Kantor Pusat Wahdah, Antang) 4. SABTU (Pukul 18.30 WITA. Syarah Riyadus Shalihin, bersama Ustadz H.M. Yusran Anshar, Lc. Bertempat di Masjid Wihdatul Ummah, Jl. Abdullah Daeng Sirua) Syukran Jazakumullahu khairan atas kunjungannya